
Penanak nasi pertama Jepang (Toshiba Consumer Marketing Corp.)
Pengembangan penanak nasi listrik dimulai pada era Taisho (1912-1926), tetapi baru pada tahun 1955 penanak nasi otomatis pertama untuk keperluan rumah tangga mulai dijual di Jepang. Perusahaan yang membuat penanak nasi ini, Toshiba, menghabiskan waktu lima tahun untuk mengembangkannya. Setelah banyak percobaan dan kesalahan, perusahaan tersebut menemukan metode yang disebut "memasak tidak langsung dengan panci ganda," di mana secangkir air dituangkan ke panci luar, dan mesin secara otomatis mati ketika semua air ini menguap, menandakan bahwa nasi sudah siap.
Dengan lahirnya penanak nasi listrik yang dapat memasak nasi sendiri, kamado menghilang dari rumah, pekerjaan rumah tangga pun berkurang, dan kehidupan ibu rumah tangga Jepang pun berubah drastis. Seiring dengan semakin banyaknya produsen yang memproduksi penanak nasi listrik yang semakin baik, peralatan ini pun dengan cepat menjadi perlengkapan rumah tangga. "Revolusi dapur" pun terjadi.

Poster yang mengiklankan penanak nasi untuk pasar luar negeri (Toshiba Consumer Marketing Corp.)Pada tahun 1960, penanak nasi pertama yang dapat menjaga nasi tetap hangat setelah dimasak mulai dijual, begitu pula beberapa model dengan pengatur waktu. Ini berarti orang-orang dapat menyantap nasi yang baru dimasak untuk sarapan hanya dengan menyetel pengatur waktu pada malam sebelumnya, dan mereka dapat menjaga nasi tetap panas dan lezat bahkan setelah dimasak. Selanjutnya, dalam upaya untuk membuat nasi dari penanak nasi lebih lezat, para pembuat memperkenalkan penanak nasi yang dikendalikan komputer, yang mengatur suhu di dalam penanak nasi menggunakan komputer kecil. Ini pertama kali diperkenalkan pada tahun 1979.

An IH rice cooker (Panasonic)
The next big turning point for electric rice cookers came in 1988, when home appliance maker Matsushita Electric Industrial Co., a longtime leader in the development of rice cookers, created the first induction heating (IH) rice cooker.
Until then, electric rice cookers had used direct heating, a method in which the heat is delivered to the inner pot by thermal conduction. The heat applied to the rice was weak compared to that of gas-powered products, and it was said that gas cookers were better than electric cookers. The IH system was invented in the hope of making electric cookers better than gas ones.
Here's how an IH cooker works. An electric current is passed through coils around the pot. This produces a magnetic field, which in turn produces an electric current in the pot's metal. Metal heats up when an electric current runs through it, so the entire pot quickly rises to a high temperature and cooks the rice evenly.
At first it was thought that IH rice cookers may not sell very well, because the IH system was rather expensive and consumed a lot of electricity. But they actually proved very popular; many people wanted cookers that could make rice tastier, even if they cost a little extra. Other manufacturers soon released their own IH models, and today more than half of the rice cookers sold across Japan are of the IH variety.
Unlike other types of cookers, with an IH cooker there is no need to soak the rice in water before cooking it. All you need to do is add the right amount of water, using the lines inside the pot as your guide, and choose the settings you want (such as how firm you want the rice to be). The final trick for making the rice as tasty as possible is to gently mix it around as soon as it's done to let any extra moisture evaporate.

Water in the small cup in the top right is heated to become high-temperature steam. (Panasonic)

The inside of a hot-steam rice cooker (Panasonic)
Pencarian cita rasa yang lebih baik terus berlanjut hingga kini, dan berbagai produsen terus mengeluarkan model-model baru. Penanak nasi IH terbaru bahkan memiliki kumparan IH di tutupnya, sehingga panci bagian dalam dipanaskan pada suhu tinggi dari segala arah. Hasilnya adalah nasi yang rasanya seperti dimasak di atas kompor kamado tradisional. Inovasi juga telah dilakukan pada bahan dan bentuk panci bagian dalam untuk mencapai pembangkitan panas yang lebih baik. Teknologi lain yang dikembangkan oleh produsen termasuk memberi tekanan pada nasi dengan uap yang dihasilkan selama memasak, yang membuat nasi menjadi lebih lengket, lebih padat, dan menerapkan getaran ultrasonik untuk membantu nasi menyerap air dengan lebih baik.
Pada tahun 2003, Matsushita mengembangkan penanak nasi IH dengan uap suhu tinggi yang mengeluarkan rasa manis dan aroma nasi dengan menggunakan uap yang sangat panas pada suhu 130 derajat Celsius (266 derajat Fahrenheit). Perlombaan untuk mengembangkan penanak nasi yang lebih baik tampaknya tak ada habisnya.
Penanak nasi listrik dapat melakukan banyak hal selain memasak nasi. Dengan penanak nasi, mudah untuk membuat kue dan roti, hidangan rebus seperti semur daging sapi, dan hidangan kukus seperti pangsit. Bahkan ada buku resep yang penuh dengan resep yang menggunakan penanak nasi. Penanak nasi telah berkembang menjadi alat memasak yang serbaguna.
Bagaimana dengan penanak nasi di luar negeri? Penanak nasi listrik digunakan di negara-negara lain yang banyak mengonsumsi nasi, terutama di Asia Tenggara. Namun, sebagian besar produk yang digunakan di negara-negara ini hanya memiliki fungsi memasak.

Salah satu penanak nasi Seri Dunia (Panasonic)

Kompor ini ideal untuk digunakan sebagai alat pengukus. (Panasonic)
Matsushita menjual penanak nasi yang dirancang khusus untuk pelanggan luar negeri, yang diberi nama World Series. Sekitar delapan juta unit seri terlaris ini telah dikirim ke total 45 negara dan wilayah. Persyaratan penanak nasi yang baik bergantung pada negaranya, karena jenis nasi yang berbeda dimakan di tempat yang berbeda, dan hidangan yang dibuat dengan nasi bervariasi dari satu daerah ke daerah lain.
Penanak nasi World Series diciptakan agar dapat digunakan bahkan di negara-negara yang tidak menjadikan nasi sebagai makanan pokok. Desain dasarnya sama di setiap model, dan fungsinya sederhana. Namun, modifikasi telah dilakukan untuk memenuhi kebutuhan pelanggan di setiap negara, termasuk tutup kaca yang memungkinkan pengguna melihat ke dalam saat nasi dimasak dan berbagai aksesori, seperti keranjang kukusan. Di Amerika Serikat, penanak nasi World Series sering digunakan sebagai alat pengukus. Produsen lain juga mengekspor penanak nasi, meskipun model mereka berperforma tinggi yang sebagian besar ditujukan untuk orang Jepang yang tinggal di luar negeri.
Jepang dan negara-negara Asia lainnya semakin menjadi pusat perhatian dunia, dan nasi merupakan bagian utama dari budaya makanan Asia. Mungkin sebentar lagi semua orang di seluruh dunia akan menggunakan penanak nasi listrik untuk memasak nasi lezat setiap saat.
Pengembangan penanak nasi listrik dimulai pada era Taisho (1912-1926), tetapi baru pada tahun 1955 penanak nasi otomatis pertama untuk keperluan rumah tangga mulai dijual di Jepang. Perusahaan yang membuat penanak nasi ini, Toshiba, menghabiskan waktu lima tahun untuk mengembangkannya. Setelah banyak percobaan dan kesalahan, perusahaan tersebut menemukan metode yang disebut "memasak tidak langsung dengan panci ganda," di mana secangkir air dituangkan ke panci luar, dan mesin secara otomatis mati ketika semua air ini menguap, menandakan bahwa nasi sudah siap.
Dengan lahirnya penanak nasi listrik yang dapat memasak nasi sendiri, kamado menghilang dari rumah, pekerjaan rumah tangga pun berkurang, dan kehidupan ibu rumah tangga Jepang pun berubah drastis. Seiring dengan semakin banyaknya produsen yang memproduksi penanak nasi listrik yang semakin baik, peralatan ini pun dengan cepat menjadi perlengkapan rumah tangga. "Revolusi dapur" pun terjadi.

Poster yang mengiklankan penanak nasi untuk pasar luar negeri (Toshiba Consumer Marketing Corp.)Pada tahun 1960, penanak nasi pertama yang dapat menjaga nasi tetap hangat setelah dimasak mulai dijual, begitu pula beberapa model dengan pengatur waktu. Ini berarti orang-orang dapat menyantap nasi yang baru dimasak untuk sarapan hanya dengan menyetel pengatur waktu pada malam sebelumnya, dan mereka dapat menjaga nasi tetap panas dan lezat bahkan setelah dimasak. Selanjutnya, dalam upaya untuk membuat nasi dari penanak nasi lebih lezat, para pembuat memperkenalkan penanak nasi yang dikendalikan komputer, yang mengatur suhu di dalam penanak nasi menggunakan komputer kecil. Ini pertama kali diperkenalkan pada tahun 1979.

An IH rice cooker (Panasonic)
The next big turning point for electric rice cookers came in 1988, when home appliance maker Matsushita Electric Industrial Co., a longtime leader in the development of rice cookers, created the first induction heating (IH) rice cooker.
Until then, electric rice cookers had used direct heating, a method in which the heat is delivered to the inner pot by thermal conduction. The heat applied to the rice was weak compared to that of gas-powered products, and it was said that gas cookers were better than electric cookers. The IH system was invented in the hope of making electric cookers better than gas ones.
Here's how an IH cooker works. An electric current is passed through coils around the pot. This produces a magnetic field, which in turn produces an electric current in the pot's metal. Metal heats up when an electric current runs through it, so the entire pot quickly rises to a high temperature and cooks the rice evenly.
At first it was thought that IH rice cookers may not sell very well, because the IH system was rather expensive and consumed a lot of electricity. But they actually proved very popular; many people wanted cookers that could make rice tastier, even if they cost a little extra. Other manufacturers soon released their own IH models, and today more than half of the rice cookers sold across Japan are of the IH variety.
Unlike other types of cookers, with an IH cooker there is no need to soak the rice in water before cooking it. All you need to do is add the right amount of water, using the lines inside the pot as your guide, and choose the settings you want (such as how firm you want the rice to be). The final trick for making the rice as tasty as possible is to gently mix it around as soon as it's done to let any extra moisture evaporate.

Water in the small cup in the top right is heated to become high-temperature steam. (Panasonic)

The inside of a hot-steam rice cooker (Panasonic)
Pencarian cita rasa yang lebih baik terus berlanjut hingga kini, dan berbagai produsen terus mengeluarkan model-model baru. Penanak nasi IH terbaru bahkan memiliki kumparan IH di tutupnya, sehingga panci bagian dalam dipanaskan pada suhu tinggi dari segala arah. Hasilnya adalah nasi yang rasanya seperti dimasak di atas kompor kamado tradisional. Inovasi juga telah dilakukan pada bahan dan bentuk panci bagian dalam untuk mencapai pembangkitan panas yang lebih baik. Teknologi lain yang dikembangkan oleh produsen termasuk memberi tekanan pada nasi dengan uap yang dihasilkan selama memasak, yang membuat nasi menjadi lebih lengket, lebih padat, dan menerapkan getaran ultrasonik untuk membantu nasi menyerap air dengan lebih baik.
Pada tahun 2003, Matsushita mengembangkan penanak nasi IH dengan uap suhu tinggi yang mengeluarkan rasa manis dan aroma nasi dengan menggunakan uap yang sangat panas pada suhu 130 derajat Celsius (266 derajat Fahrenheit). Perlombaan untuk mengembangkan penanak nasi yang lebih baik tampaknya tak ada habisnya.
Penanak nasi listrik dapat melakukan banyak hal selain memasak nasi. Dengan penanak nasi, mudah untuk membuat kue dan roti, hidangan rebus seperti semur daging sapi, dan hidangan kukus seperti pangsit. Bahkan ada buku resep yang penuh dengan resep yang menggunakan penanak nasi. Penanak nasi telah berkembang menjadi alat memasak yang serbaguna.
Bagaimana dengan penanak nasi di luar negeri? Penanak nasi listrik digunakan di negara-negara lain yang banyak mengonsumsi nasi, terutama di Asia Tenggara. Namun, sebagian besar produk yang digunakan di negara-negara ini hanya memiliki fungsi memasak.

Salah satu penanak nasi Seri Dunia (Panasonic)

Kompor ini ideal untuk digunakan sebagai alat pengukus. (Panasonic)
Matsushita menjual penanak nasi yang dirancang khusus untuk pelanggan luar negeri, yang diberi nama World Series. Sekitar delapan juta unit seri terlaris ini telah dikirim ke total 45 negara dan wilayah. Persyaratan penanak nasi yang baik bergantung pada negaranya, karena jenis nasi yang berbeda dimakan di tempat yang berbeda, dan hidangan yang dibuat dengan nasi bervariasi dari satu daerah ke daerah lain.
Penanak nasi World Series diciptakan agar dapat digunakan bahkan di negara-negara yang tidak menjadikan nasi sebagai makanan pokok. Desain dasarnya sama di setiap model, dan fungsinya sederhana. Namun, modifikasi telah dilakukan untuk memenuhi kebutuhan pelanggan di setiap negara, termasuk tutup kaca yang memungkinkan pengguna melihat ke dalam saat nasi dimasak dan berbagai aksesori, seperti keranjang kukusan. Di Amerika Serikat, penanak nasi World Series sering digunakan sebagai alat pengukus. Produsen lain juga mengekspor penanak nasi, meskipun model mereka berperforma tinggi yang sebagian besar ditujukan untuk orang Jepang yang tinggal di luar negeri.
Jepang dan negara-negara Asia lainnya semakin menjadi pusat perhatian dunia, dan nasi merupakan bagian utama dari budaya makanan Asia. Mungkin sebentar lagi semua orang di seluruh dunia akan menggunakan penanak nasi listrik untuk memasak nasi lezat setiap saat.