Seorang gadis remaja bernama Carly Goff mengalami penderitaan luar biasa. Selama bertahun-tahun di dalam tubuhnya hidup mahluk pemakan daging mematikan yang memakan tubuhnya dari dalam.
Carly Goff sakit setelah liburan keluarga di Fiji saat masih remaja. Ia mengaku saat itu memakan ikan yang belum matang yang terkontaminasi. Parasit telah berada di bagian dalam tubuhnya selama lebih dari lima tahun. “Saya sangat sakit dan saya sangat menderita. Kaki terbakar, wajah terbakar. Rasanya seperti pembakaran asam. Saya juga merasa seperti otot yang robek, jadi saya merasa otot saya dirobek-robek,” katanya kepada Seven News, Kamis, 26 Oktober.
Carly berbicara tentang penyakitnya yang menyiksa untuk pertama kalinya setelah dokter akhirnya dapat mendiagnosa kondisi yang sudah menyiksanya itu. Saat itu diketahui kuman pemakan daging, Gnathostomiasis, telah tinggal di dalam dirinya, berkembang dari otot-ototnya.
Ini adalah sejenis cacing parasit yang berpotensi mematikan yang terutama ditemukan di Asia Tenggara, khususnya Thailand dan Amerika selatan dan tengah. Kepada para pelancong yang merencanakan perjalanan ke daerah-daerah di dunia, Carly memberikan peringatan untuk waspada.
“Ini seperti cacing dan memiliki gigi. Ini bergerak dengan mengunyah melalui jaringan dan otot, menghancurkan kemanapun ia pergi,” jelasnya.
Ketika didiagnosis dua bulan yang lalu, Carly diobati dengan tablet cacing yang kelaparan di parasit. Dia sekarang sedang dalam usaha menuju pemulihan. Dokternya, Dr Bernard Hudson, mengatakan bahwa parasit tersebut bisa mematikan jika tidak diobati.
“Ini bisa menyerang sistem organ manapun, bisa masuk melalui paru-paru, melalui otak Anda, bisa masuk ke kandung kemih, hati, di mana saja” katanya.
Dia mengingatkan parasit ini bisa masuk ke sistem tubuh manusia dengan memakan ikan air tawar segar serta ayam, reptil, belut dan kodok.
“Jika Anda pergi oversear, hati-hati dengan apa yang Anda makan dan minum. Kami memiliki sedikit pepatah, rebus, masak, kupas, atau lupakan saja. Jika Anda makan makanan mentah, Anda mengambil risiko,” kata Dr Hudson. (SN/Metro/amr)