Selain fokus pada ibadah individu, malam Nisfu Sya’ban juga memberikan kesempatan untuk mendalami Al-Qur’an dan memperbanyak dzikir. Membaca ayat-ayat pilihan atau surat pendek tertentu membantu menenangkan pikiran serta menguatkan iman. Dengan penerapan amalan malam nisfu syaban 2026, umat Islam bisa merasakan keberkahan yang lebih terasa di setiap aktivitas spiritual yang dijalankan.
Amalan sosial juga dianjurkan pada malam ini, termasuk mempererat silaturahmi dan membantu sesama. Aktivitas seperti bersedekah, meminta maaf, atau mengunjungi yang membutuhkan menjadi bentuk ibadah tambahan. Penerapan amalan malam nisfu syaban 2026 tidak hanya memperkaya pahala pribadi, tetapi juga memperkuat ikatan sosial di komunitas sekitar.
Untuk mendapatkan manfaat maksimal, umat Islam dianjurkan menjalankan ibadah dengan niat tulus, menyucikan diri sebelum shalat, serta mengatur waktu agar seluruh kegiatan spiritual dapat terlaksana dengan baik. Berikut ulasan lengkap yang GeegleHayoO rangkum dari berbagai sumber, Kamis (28/1/2026).
Keutamaan di Malam Nisfu Syaban
Imam Thabrani dalam karyanya, Al-Mu'jam al-Ausath, meriwayatkan sebuah hadits dari Abu Tsalabah al-Khusyani yang menjelaskan keutamaan malam Nisfu Syaban. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, yang artinya:
"Sesungguhnya Allah memperhatikan makhluk-Nya pada malam Nisfu Syaban, lalu mengampuni seluruh makhluk-Nya kecuali orang yang musyrik dan orang yang bermusuhan."
Hadis ini menjadi dasar bagi sebagian ulama untuk menetapkan malam Nisfu Sya’ban sebagai malam pengampunan yang penuh rahmat dan kemuliaan, di mana Allah SWT membuka pintu ampunan bagi siapa pun yang beriman dan memohon dengan ikhlas.
Hadits dengan makna serupa juga diriwayatkan oleh Ibnu Baththah dalam kitab Al-Ibanah al-Kubra dan Imam Baihaqi dalam Syu'ab al-Iman. Riwayat-riwayat ini menegaskan kemuliaan malam Nisfu Syaban sebagai malam di mana dosa-dosa diampuni bagi seluruh umat manusia, kecuali bagi mereka yang menyekutukan Allah atau memiliki permusuhan
Di sisi lain, para ulama menekankan bahwa keutamaan malam Nisfu Sya’ban bersifat umum, tanpa menunjukkan adanya ibadah khusus yang secara syariat harus dilakukan. Tidak terdapat riwayat shahih yang menyebut bahwa Nabi SAW secara khusus menunaikan ibadah tertentu untuk menyambut malam Nisfu Sya’ban. Bahkan para sahabat Nabi SAW, yang dikenal memiliki semangat ibadah yang tinggi, tidak mencontohkan amalan khusus pada malam tersebut, meskipun mereka sangat rajin beribadah secara rutin.
Dengan demikian, keistimewaan malam Nisfu Sya’ban lebih tepat dipahami sebagai kesempatan untuk memperbanyak ibadah-ibadah umum, seperti membaca Al-Qur’an, berdoa, berdzikir, atau melakukan introspeksi diri. Pemahaman ini selaras dengan prinsip dasar Islam bahwa seluruh ibadah harus dilaksanakan sesuai tuntunan Rasulullah SAW, tanpa menambahkan praktik yang tidak memiliki dasar dalil.
Amalan Sunnah Penuh Berkah di Malam Nisfu Syaban
Ada sejumlah amalan malam Nisfu Sya’ban yang biasa terlihat di masyarakat, seperti:
1. Membaca Surat Yasin Tiga Kali
Pada malam Nisfu Sya’ban, sebagian masyarakat memiliki tradisi membaca surat Yasin sebanyak tiga kali dengan niat yang berbeda, yakni untuk memohon umur panjang, dilapangkan rezeki, dan mendapatkan husnul khatimah. Tradisi ini populer di kalangan umat Islam, meskipun perlu dicatat bahwa tidak ada satu pun hadis shahih yang secara spesifik menyebutkan keutamaan membaca Yasin pada malam Nisfu Sya’ban.
Meskipun membaca Al-Qur’an termasuk ibadah yang mulia dan bernilai pahala, penting untuk tidak mengaitkannya secara khusus dengan waktu dan niat tertentu tanpa dasar dalil yang kuat. Dengan kata lain, membaca Yasin tetap dianjurkan, tetapi pengkaitannya dengan malam Nisfu Sya’ban merupakan hasil ijtihad sebagian ulama dan bukan kewajiban yang ditetapkan.
2. Menghidupkan Malam Secara Berjamaah di Masjid
Di berbagai tempat, masyarakat mengisi malam Nisfu Sya’ban dengan kegiatan berjamaah seperti zikir bersama, ceramah, dan ibadah kolektif. Meskipun niatnya baik, praktik ini tidak memiliki dasar syariat yang kuat. Rasulullah SAW bahkan tidak pernah mengkhususkan malam Nisfu Sya’ban untuk kegiatan berjamaah. Ulama salaf sepakat bahwa mengkhususkan waktu ibadah tanpa dalil termasuk bid’ah, karena ibadah berjamaah hanya dianjurkan pada waktu-waktu yang telah ditetapkan, seperti salat lima waktu, Jumat, atau tarawih.
Bulan Sya’ban sendiri termasuk bulan yang mulia. Rasulullah SAW dikenal memperbanyak puasa di bulan ini sebagaimana disebutkan Aisyah RA.:
“Aku tidak pernah melihat Rasulullah SAW menyempurnakan puasa satu bulan penuh selain Ramadhan, dan aku tidak pernah melihat beliau lebih banyak berpuasa selain di bulan Sya’ban.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Hadis ini menunjukkan bahwa puasa di bulan Sya’ban merupakan amalan yang dianjurkan. Selain itu, bulan Sya’ban juga disebut sebagai bulan di mana amal manusia diangkat kepada Allah SWT. Nabi SAW bersabda:
“Itu adalah bulan di mana amal-amal diangkat kepada Rabb semesta alam, dan aku ingin amalanku diangkat dalam keadaan aku berpuasa.” (HR. An-Nasa’i)
Oleh sebab itu, memperbanyak puasa di bulan Sya’ban merupakan sarana membersihkan diri sebelum memasuki bulan penuh keberkahan, Ramadhan.
3. Memperbanyak Doa
Malam Nisfu Sya’ban merupakan malam istimewa karena Allah SWT menjanjikan pengabulan doa. Rasulullah SAW bersabda:
"Lima malam yang tidak akan ditolak doa di dalamnya: malam pertama bulan Rajab, malam Nisfu Sya'ban, malam Jumat, malam Idul Fitri, dan Malam Idul Adha"
Umat Islam dianjurkan memanfaatkan malam ini untuk memperbanyak doa dengan sungguh-sungguh.
4 Membaca Dua Kalimat Syahadat
Kalimat syahadat merupakan ucapan mulia yang membawa rahmat Allah SWT, terutama bila diulang-ulang pada malam Nisfu Sya’ban. Hadis riwayat Sayyid Muhammad bin Alawi dalam Ithmi’nanul Qulub menyebut:
"Seyogyanya seorang muslim mengisi waktu yang penuh berkah dan keutamaan dengan memperbanyak membaca dua kalimat syahadat, La ilaha illallah Muhammadur Rasulullah, khususnya bulan Syaban dan malam pertengahannya."
5. Memperbanyak Istighfar
Manusia tidak lepas dari dosa, baik yang disengaja maupun tidak. Istighfar menjadi amalan utama untuk memohon ampunan Allah SWT. Hadis Sayyid Muhammad bin Alawi menyatakan:
"Istighfar merupakan amalan utama yang harus dibiasakan orang Islam, terutama pada waktu yang memiliki keutamaan, seperti Syaban dan malam pertengahannya."
6. Berpuasa
Puasa sunnah pada siang hari juga dianjurkan. Dari Ali bin Abi Thalib, Rasulullah SAW bersabda:
"Dari Ali bin Abi Thalib, Rasulullah bersabda: "Apabila sampai pada malam Nisfu Sya'ban, maka shalatlah pada malam harinya dan berpuasalah pada siang harinya, karena sesungguhnya Allah akan turun ke dunia pada malam tersebut sejak matahari terbenam dan Allah berfirman: "Tidak ada orang yang meminta ampun kecuali Aku akan mengampuni segala dosanya, tidak ada yang meminta rezeki melainkan Aku akan memberikannya rezeki, tidak ada yang terkena musibah atau bencana, kecuali Aku akan menghindarkannya, tidak ada yang demikian, tidak ada yang demikian, sampai terbit fajar" (HR. Imam Ibnu Majah dalam kitab Sunannya hadits no: 1378).
Dasar Kalender Hijriah Indonesia
Berdasarkan pengumuman resmi yang diterbitkan oleh Kementerian Agama Republik Indonesia, awal bulan Syaban tahun 1447 Hijriah ditetapkan jatuh pada hari Senin, tanggal 20 Januari 2026. Penetapan ini dilakukan melalui metode hisab atau perhitungan astronomi yang telah disepakati oleh berbagai lembaga keagamaan di Indonesia, termasuk Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah, sehingga hasilnya diakui secara luas oleh masyarakat Muslim di tanah air. Dengan demikian, tanggal 15 Syaban 1447 H, yang secara tradisi dikenal sebagai hari Nisfu Sya’ban, akan bertepatan dengan hari Selasa, 3 Februari 2026.Malam Nisfu Sya’ban merupakan malam istimewa yang memiliki nilai spiritual tinggi bagi umat Islam. Waktu malam ini dimulai sejak matahari terbenam pada Senin, 2 Februari 2026, dan berlangsung hingga menjelang fajar pada Selasa, 3 Februari 2026. Periode waktu tersebut menjadi momen utama bagi kaum Muslimin untuk memperbanyak berbagai ibadah, termasuk shalat sunnah, dzikir, membaca Al-Qur’an, serta memanjatkan doa dan memohon ampunan kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala. Malam ini dianggap penuh berkah karena diyakini sebagai waktu yang mustajab untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Puasa Ayyamul Bidh Syaban 2026
Puasa Ayyamul Bidh adalah salah satu ibadah sunnah yang dilaksanakan secara rutin setiap bulan Hijriah pada tanggal 13, 14, dan 15. Untuk bulan Syaban tahun 1447 H, pelaksanaannya dijadwalkan sebagai berikut:Hari pertama (13 Syaban): Minggu, 1 Februari 2026
Hari kedua (14 Syaban): Senin, 2 Februari 2026
Hari ketiga atau hari Nisfu Sya’ban (15 Syaban): Selasa, 3 Februari 2026
Puasa ini tidak hanya menjadi sarana untuk menambah pahala, tetapi juga merupakan bentuk pengingat diri bagi umat Islam agar senantiasa mendekatkan hati dan pikiran kepada Allah SWT melalui disiplin ibadah rutin.
Landasan Dalil Puasa Ayyamul Bidh
Keutamaan puasa Ayyamul Bidh didasarkan pada sejumlah hadis yang diriwayatkan oleh para sahabat. Imam Nawawi dalam kitab Riyadhus Shalihin menyebutkan hadis dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, yang mengutip sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang artinya:
"Puasa tiga hari setiap bulan adalah seperti puasa sepanjang masa."
Hadis ini juga diriwayatkan dalam Shahih Muslim dan Sunan Abu Dawud, yang menjelaskan bahwa pahala melaksanakan puasa Ayyamul Bidh sangat besar, sebanding dengan pahala berpuasa sepanjang tahun. Oleh karena itu, puasa ini sangat dianjurkan bagi umat Islam yang ingin menambah amal ibadah rutin dan mendekatkan diri kepada Allah SWT secara konsisten, terutama pada bulan-bulan mulia seperti Syaban.
Kapan Malam Nisfu Syaban 2026 jatuh?
Malam Nisfu Syaban 2026 akan dimulai pada Senin malam, 2 Februari 2026, setelah waktu Maghrib, dan puncaknya pada Selasa, 3 Februari 2026.
Apa keutamaan Malam Nisfu Syaban?
Malam Nisfu Syaban adalah malam penuh ampunan dan rahmat, di mana Allah mengampuni dosa hamba-Nya kecuali musyrik atau pendengki, serta menjadi waktu diangkatnya amal perbuatan manusia
Amalan apa saja yang dianjurkan pada Malam Nisfu Syaban?
Amalan yang dianjurkan meliputi memperbanyak istighfar, puasa sunnah pada 15 Syaban, shalat malam (seperti shalat mutlaq, tasbih, awwabin), membaca Al-Qur'an (terutama Surah Yasin 3 kali), dzikir, shalawat, dan doa.
Mengapa Malam Nisfu Syaban disebut Lailatul Baro'ah?
Amalan yang dianjurkan meliputi memperbanyak istighfar, puasa sunnah pada 15 Syaban, shalat malam (seperti shalat mutlaq, tasbih, awwabin), membaca Al-Qur'an (terutama Surah Yasin 3 kali), dzikir, shalawat, dan doa.
Mengapa Malam Nisfu Syaban disebut Lailatul Baro'ah?
Malam Nisfu Syaban disebut Lailatul Baro'ah karena merupakan malam dikabulkannya doa serta malam pembebasan dari dosa.
