Selama dia bertugas dulu, dia cedera, kakinya cacat dan terpaksa harus segera meninggalkan kesatuannya.
Tak lama, karena kesulitan ekonomi, Li harus pergi kesana kemari, bergonta-ganti pekerjaan, dan sekarang dia menjadi petugas pembersih lingkungan sekitar.
Anak laki-laki Li bekerja di sebuah perusahaan di kota tersebut.
Karena dia tidak punya banyak waktu untuk mengajar dan menemaninya waktu kecil dulu, anaknya menjadi apatis saat dibesarkan.
Hubungan ayah dan anak tersebut menjadi tidak baik.
Apalagi setelah istri Li meninggal karena kanker, jarak ayah dan anak itu menjadi semakin jauh.
Hubungan antara ayah dan anak di antara mereka menjadi buruk, bukan sekedar karena Li tidak punya banyak waktu untuk merawat anaknya, tapi karena setelah bertahun-tahun bekerja, Li tidak mampu membeli barang-barang yang umumnya dimiliki oleh suatu keluarga.
Sementara orang-orang lain bisa bepergian bersama orangtuanya, memiliki mobil, motor, dan sebagainya di rumah, di rumah Li hanya ada sedikit perabot yang usang.
Hal ini ternyata membuat sang anak malu akan kemiskinan ayahnya.
===
Sebelumnya, ada kalanya saat Li kembali ke rumah, di dalam hatinya dia juga ingin tinggal didekat anaknya untuk sementara dan menghabiskan waktu bersamanya.
Dia juga ingin mencari pekerjaan di dekat rumah supaya dia bisa segera kembali ke keluarganya setelah selesai bekerja.
Akhirnya, dia menemukan pekerjaan sebagai pekerja pembersih lingkungan di sekitar wilayah tempat tinggalnya.
Meski melelahkan dan gajinya tidak besar, tapi Li sangat bahagia.
Setiap hari dia bangun pagi-pagi sekali untuk mulai bekerja, bekerja sekali lagi menyapu bersih semua sampah di jalan.
Meski sudah lama berhenti dari ketentaraan, dia tetap memiliki kebiasaan bangun pagi-pagi.
Setiap putranya berangkat kerja, dia langsung pergi begitu saja tanpa pamit kepadanya.
Ketika Li hampir selesai menyapu, tiba-tiba rekannya Wu menghampirinya dan mengatakan bahwa tadi dia mendapat kabar bahwa ada sebuah bus umum jurusan kota yang mengalami kecelakaan.
Dia bertanya, “Putramu sudah berangkat?”
“Sudah,” kata Li
“Dia berangkat kerja dengan menaiki bus jurusan kota bukan?”
“Ya, astaga, kamu benar, bagaimana keadaan anakku ya, apakah dia baik-baik saja? Apakah dia menaiki bus yang mengalami kecelakaan itu?”
Pekerjaannyapun sudah selesai, maka Li segera bergegas menaiki sepedanya, menyusuri jalan menuju tempat kerja anaknya.
===
Benar saja, di jalan dia melihat bekas kecelakaan bus, ternyata semua korban sudah dibawa ke rumah sakit dan lokasi kecelakaan sudah diamankan polisi.
Dia tidak tahu harus mencari informasi kepada siapa, jadi dia melanjutkan perjalanannya, dia menyusuri jalan-jalan kecil untuk memotong jalan ke kantor anaknya.
Setelah sampai disana Li segera mendekati penjaga untuk menanyakan apakah anaknya telah datang untuk bekerja.
Penjaga itu menatapnya dengan tatapan aneh dan menjawab bahwa anaknya belum datang.
Li memutuskan berdiri di gerbang dan menunggu.
Dia langsung pergi setelah selesai bekerja, jadi pakaian yang dia kenakan sangat kotor, hal itu juga yang membuat semua orang memandangnya dengan tatapan aneh dan hina.
Sesaat kemudian, terlihat anaknya datang, Li tersenyum karena dia tahu anaknya ternyata baik-baik saja.
Anaknya melihat namun dia cepat-cepat berjalan dan ingin menghindar serta pura-pura tidak melihat.
Li memanggilnya lagi tapi sama sekali tidak berpikir bahwa tindakannya itu akan menyebabkan putranya kehilangan muka.
“Huy, ayah datang, ayah rasa kamu belum sarapan pagi, tadi ayah sempat membeli sepotong kue, ini, kamu makanlah,” kata Li sambil menyodorkan kantong plastik berisi kue.
===
Huy ragu-ragu dan akhirnya menarik ayahnya ke samping gerbang, dia berkata: “Apa yang ayah lakukan di sini?”
“Ayah mendengar orang-orang berbicara bahwa ada bus jurusan kota yang mengalami kecelakaan, ayah khawatir, jadi ayah pergi untuk mencari tahu tentang keadaanmu,” kata Li menjelaskan.
“Oke, sekarang ayah sudah tahu bahwa aku baik-baik saja, sekarang pergilah!”
“Sebentar nak, ayah punya kue ini, makanlah, kamu belum sarapan kan?”
“Ayah makan saja sendiri, buat ayah sarapan saja.”
“Tidak, ayah tadi membeli dua, dan ayah sudah memakan yang satu, ayo, makanlah.”
“Baiklah, sini aku makan, ok jadi sekarang aku sudah menerima kue yang ayah bawa, ayah juga sudah tahu aku baik-baik saja, sekarang pergilah, sebelum nanti orang-orang melihat dan aku kehilangan muka!” katanya sambil mendorong ayahnya.
Huy melihat sekeliling, banyak rekannya masih mengamatinya.
Lalu Huy melihat pakaian kotor ayahnya, kakinya kotor dan kukunya hitam.
Dia merasa akan segera menjadi subyek ejekan.
Mata Li mulai memerah, dia tidak pergi dan malah diam terpaku.
Li kemudian mulai berjalan, karena dia berjalan dengan tidak konsentrasi, dia tergelincir.
Huy berlari ingin menolong ayahnya, namun melihat orang-orang menatapnya, dia tidak jadi melangkah maju.
Jadi ayahnya yang sebelah kakinya agak cacat harus bangkit sendiri dengan susah payah.
Tiba-tiba seorang pria paruh baya menghampiri ayahnya.
“Halo kapten!”
Ternyata itu adalah direktur perusahaan anaknya bekerja.
Li melihat pria itu dengan seksama, kemudian berkata, “Dong, ya, kamu pasti Dong? Sudah 30 tahun lebih dan kamu masih ingat kepada saya?”
Direktur Dong membungkuk, kemudian memegang tangannya dan berkata, “Kapten, seumur hidup ini bagaimana mungkin saya lupa dengan Anda. Tanpa pengorbanan Anda, mungkin saat ini saya tidak ada di sini.”
Adegan di masa lalu tiba-tiba terlintas di benaknya
Li segera memanggil anaknya dan menyuruhnya untuk menyapa Dong, dia belum tahu bahwa Dong adalah direkturnya.
Dong juga tidak bisa menahan tangisnya, dia bercerita:
“30 tahun lalu, ayahmu ini adalah kapten saya di tentara, dia mengorbankan dirinya untuk menyelamatkan nyawa saya, dan akibatnya satu kakinya menjadi cacat.”
”Setelah tugas saya diketentaraan selesai, saya terus berusaha mencarinya, tapi karena dia mengganti alamatnya, saya tidak dapat menemukannya.”
”Beruntung sekali, hari ini kami bisa bertemu lagi.”
“Oh, mulai sekarang kamu panggil saja saya paman, anggap saja saya ini pamanmu.”
Setelah berbicara, Huy menyadari bahwa dia belum mengerti ayahnya dengan baik, selama ini ayahnya sulit mencari pekerjaan bergaji besar karena cacat, dan ternyata cacat di kakinya itu adalah karena dia dulu menyelamatkan nyawa orang lain.
Di dalam hati dia mulai menangis, dia memeluk ayahnya, mengangkat kepala dengan bangga akan ayahnya, dan segera, hubungan antara ayah dan anak itu kini menjadi baik dan lebih erat.(asm/yant)